Sistem Koordinasi dan Indra pada Manusia

Sistem koordinasi adalah sebuah sistem yang mengatur semua kegiatan tubuh sehingga dapat bekerja secara bersamaan.Sistem koordinasi dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf dan sistem hormon.

Sistem Saraf

Sistem saraf memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai penghubung antara tubuh dan dunia luar melalui Indra, sebagai pengatur atau pengendali respons (tanggapan) terhadap rangsang dari luar tubuh, mengatur dan mengendalikan kerja berbagai organ tubuh sehingga dapat bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing. Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimilik oleh sistem saraf, yaitu :
  1. Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Reseptor pada tubuh manusia adalah alat indera.
  2. Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
  3. Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls. Efektor yang penting pada manusia adalah otot dan kelenjar.

Sel Saraf


Jaringan saraf merupakan jaringan komunikasi yang tersusun oleh sel-sel saraf yang disebut neuron. Setiap neuron terdiri atas tiga bagian, yaitu :
  1. Badan sel
    Badan sel saraf berwarna kelabu, di dalamnya terdapat sitoplasma, nukleus (inti sel), dan nukleous (anak inti sel). Badan sel berfungsi menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson.
  2. Dendrit
    Dendrit merupakan tonjolan atau juluran sitoplasma yang pendek, berjumlah lebih dari satu dengan ujung bercabang-cabang, serta berfungsi meneruskan rangsangan (impuls) saraf menuju badan sel saraf.
  3. Neurit (akson)
    Neurit disebut juga serabut saraf merupakan tonjolansitoplasma yang panjang, berjumlah satu, dan berfungsi meneruskan impuls dari badan sel yang satu ke dendrit saraf yang lain. Di dalam neurit terdapat benang-benang halus yang disebut neurofibril. Neurit dibungkus oleh selaput/selubung mielin yang berfungsi sebagai pelindung atau isolator. Selubung mielin disusun dari sel-sel Schwann yang membentuk jaringan untuk menyediakan bagi neurit dan membantu regenerasi neurit. Bagian neurit yang tidak dilindungi selubung mielin disebut nodus Ranvier. Bagian ini berfungsi mempercepat penyampaian rangsang.



Berdasarkan fungsinya, neuron dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
  1. Neuron Sensorik (aferen/sel saraf indra), berfungsi meneruskan rangsangan dari reseptor (penerima rangsang) ke saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Dendrit neuron ini berhubungan dengan reseptor, sedangkan neuritnya berhubungan dengan neuron lain.
  2. Neuron Motorik (eferen), berfungsi membawa impuls dari saraf pusat ke efektor (otot dan kelenjar). Dendrit neuron ini berhubungan dengan neurit neuron lainnya, sedangkan neuritnya behubungan dengan efektor.
  3. Neuron Konektor (inter neuron/neuron penghubung/Asosiasi), berfungsi meneruskan impuls dari neuron sensorik ke neuron mototorik. Neuron konektor banyak terdpat di otak dan sumsum tulang belakang. Neuron konektor yang terdapat di kedua bagian tersebut dinamakan neuron ajustor.


Berdasarkan strukturnya, sel saraf dibedakan menjadi :
  • Sel saraf unipolar mempunyai satu neurit dan satu dendrit yang keduanya membentuk suatu percabangan.
  • Sel saraf  biporlar mempunyai satu neurit dan dua dendrit.
  • Sel saraf multipolar  mempunyai sebuah neurit dan beberapa dendrit.
Impuls dapat diteruskan dari neurit neuron yang satu ke dendrit neuron yang berikutnya karena ujung neurit dan dendrit tidak diselubungi selaput pelindung. Pertemuan antara neurit neuron yang satu dengan dendrit neuron lainnya disebut sinapsis. Di setiap sinapsis terdapat suatu ruang/celah yang disebut celah sinapsis. Di ujung neurit terdapat kantong yang disebut bulbus akson berisi zat kimia yang disebut neurotransmiter. Neurotransmiter dapat berupa asetilkolin dan kolin esterase.

Penggolongan Sistem Saraf

Sistem saraf manusia tersusun dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi.
  1. Sistem saraf pusat
    Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. otak dan sumsum tulang belakang dilindungi oleh selaput yang disebut meniges. meniges terdiri dari tiga lapis, yaitu duramater (lapisan paling luar), araknoid (lapisan tengah), dan piameter (lapisan paling dalam dan tipis, melekat pada otak dan sum-sum tulang belakang).
    Di antara piamater dan araknoid terdapat ruang, yang disebut ruang subaraknoid, berisi cairan serebrospinal. Cairan tersebut berfungsi sebagaim pelindung otak karena bersifat meredam benturan yang terjadi, baik pada otak (antara otak dan tulang kepala) maupun pada sumsum tulang belakang (antara sumsum tulang belakang dan tulang belakang).

    • Otak

      Otak terletak di dalam rongga tengkorak, beratnya lebih kurang 1/50 dari berat badan. Otak memiliki beberapa bagian, diantaranya :

      • Otak besar (Serebrum)
        Otak besar merupakan pusat pengendali kegiatan yang disadari, misalnya berpikir, mengingat, berbicara, melihat dan bergerak. Otak besar terbagi atas dua belahan, yaitu belahan kiri dan belahan kanan. Belahan kiri berfungsi mengatur dan mengendalikan kegiatan tubuh bagian kanan, sedangkan belahan kanan berfungsi mengatur dan mengendalikan kegiatan tubuh sebelah kiri.
        Otak besar terdiri atas dua lapis, yaitu korteks (lapisan luar) dan medula (lapisan dalam). Lapisan luar merupakan pusat berbagai kegiatan, antara lain penglihatan, kesadaran, penciuman, pendengaran, dan pusat kecerdasan. Lapisan dalam tebal dan berwarna putih serta banyak mengandung serabut saraf.
        Bagian belakang otak besar  (lobus oksipitalis) berperan dalam penglihatan. Bagian samping (lobus temporalis) yang terletak di atas telinga yang berperan sebagai pusat pendengaran. Bagian depan (lobus frontalis) berperan dalam pengendalian otot.
        Otak besar dibedakan menjadi tiga daerah, yaitu area sensorik yang berkaitan dengan penerimaan rangsangan dari reseptoryang terletak di indra, area motorin yang berperan menanggapi rangsangan yang sampai ke otak melalui perintah yang dikirim ke efektor, dan area asosiasi yang menghubungkan area sensorik dan area motorik yang berperan dalam proses belajar.
      • Otak tengah (Mesensefalon)
        Otak tengah berperan dalam refleks mata, tonus (kontraksi terus-menerus) otot, dan berkaian dengan posisi tubuh.
      • Otak depan (Diensefalon)
        Otak depan terdiri atas talamus dan hipotalamus. Talamus berfungsi menerima semua rangsangan dari reseptor kecuali bau, lalu diteruskan ke area sensorik di otak besar. Hipotalamus berkaitan dengan pengauran suhu dan nutrien, penjagaan (agar tetap bangun), dan penumbuhan sikap agresif.
      • Otak kecil (Serebelum)
        Otak kecil dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan kiri dan kanan. Kedua belahan tersebut dihubungkan oleh pons Varol. Otak kecil berfungsi mengatur keseimbangan tubuh dan sebagai pusat koordinasi kerja otot ketika bergerak.
      • Sumsum lanjutan (Medula oblongata)
        Sumsum lanjutan berperan mengatur denyut jantung, menyempitkan pembuluh darah, melakukan gerak menelan, batuk, bersin, bersendawa, serta muntah. Bagian sumsum lanjutan yang menghubungkan otak dengan sumsum tulang belakang disebut pons dan berfungsi sebagai pengatur pernapasan.
    • Sumsum Tulang Belakang (Medula Spinalis)
      Sumsum tulang belakang merupakan sambungan dari sumsumlanjutan sampai tulang belakang pinggang kedua. Jika sumsum tulang belakang dipotong secara melintang, akan tampak pola seperti huruf H. Bagian seperti huruf H ini mempunyai dua sayap, yaitu sayap ventral (mengarah ke perut) dan sayap dorsal (mengarah ke punggung). Sayap ventral mengendung badan neuron motorik yang neuritnya mengarah ke efektor, sedangkan sayap dorsal mengandung badan neuron sensorik. Sumsum tulang belakang berperan dalam terjadinya gerak refleks.
  2. Sistem saraf tepi/Perifer
    Sistem saraf tepi berfungsi menghubungkan sistem saraf pusat dengan organ-organ tubuh. Berdasarkan arah impuls, saraf tepi dibedakan menjadi dua, yaitu sistem saraf aferen dan eferen. Sistem saraf aferen berfungsi membawa impuls dari reseptor ke saraf pusat. Sistem saraf eferen berfungsi membawa impuls dari saraf pusat ke efektor. Sistem saraf tepi dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

    • Sistem Saraf Somatik
      Sistem saraf somatik terdiri dari 12 pasang saraf otak (saraf kranial) dan 31 pasang saraf sumsum tulang belakang (saraf spinal). Saraf kranial dibedakan menjadi tiga macam, yaitu yang bersifat sensorik saja, bersifat motorik saja, serta bersifat sensorik dan motori. Saraf spinal merupakan campuran berbagai saraf karena saraf yang berasal dari akar dorsal bersifat sensorik, kemudian menjadi satu ikatan dengan saraf yang berasal dari aka ventral yang bersifat motorik.
    • Sistem Saraf Otonom
      Sistem saraf otonom disebut juga sistem saraf tak sadar karena bekerja tanpa dipengaruhi oleh kesadaran. Sistem saraf otonom dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Kedua macam sistem saraf mempunyai efektor yang sama, tetapi bekerja secara antagonis (berlawanan). Pada umumnya sistem saraf simpatik memacu kerja organ, kecuali pada alat pencernaan terjadi sebaliknya. Perbedaann kerja kedua sistem saraf tersebut dapat dilihat pada gambar.

Mekanisme Kerja Sistem Saraf

  1. Gerak Sadar (Gerak biasa)
    Gerak sadar adalah gerak yang terjadi karena disengaja atau disadari. Berikut adalah bagan terjadinya gerak sadar :

  2. Gerak Refleks
    Gerak refleks adalah grak yang tidak disengaja atau tidak disadari. Berikut adalah bagan terjadinya gerak tak sadar.


    Contoh gerak refleks :

    • Terangkatnya kaki jika terinjak sesuatu
    • Gerakan menutup kelopak mata dengan cepat jika ada benda asing yang masuk ke mata
    • Menutup hidung pada waktu mencium bau yang sangat busuk
    • Gerakan tangan menangkap benda yang tiba-tiba terjatuh
    • Gerakan tangan melepaskan beda yang bersuhu tinggi

Penyakit dan kelainan pada sistem saraf

  • Ayan atau Epilepsi, penyakit karena dilepaskannya letusan-letusan listrik ( impuls ) pada neuron-neuron otak. Epilepsi adalah penyakit saraf menahun yang menimbulkan serangan mendadak berulang-ulang tak beralasan. Pada penderita ayan, Sinyal-sinyal yang berhubungan dengan perasaan penglihatan, berpikir, dan bergerak tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
  • Poliomielitis, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang neuron-neuron motoris sistem saraf ( otak dan medula spinalis ). Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV).
  • Neuritis, radang saraf yang terjadi karena pengaruh fisis seperti patah tulang, tekanan pukulan, dan dapat pula karena racun atau defisiensi vitamin B1, B6, B12.
  • Bell's palsy adalah nama penyakit yang menyerang saraf wajah hingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah. Terjadi disfungsi syaraf VII (syaraf fascialis). Berbeda dengan stroke, kelumpuhan pada sisi wajah ditandai dengan kesulitan menggerakkan sebagian otot wajah, seperti mata tidak bisa menutup, tidak bisa meniup, dsb. Beberapa ahli menyatakan penyebab Bell's Palsy berupa virus herpes yang membuat syaraf menjadi bengkak akibat infeksi.
  • Kelumpuhan atau paralisis adalah hilangnya fungsi otot untuk satu atau banyak otot. Kelumpuhan dapat menyebabkan hilangnya perasaan atau hilangnya mobilitas di wilayah yang terpengaruh. Kelumpuhan sering disebabkan akibat kerusakan pada otak.

Sistem Hormon

Asal kata hormon dari bahasa Yunani yakni hormaen yang berarti menggerakkan. Hormon merupakan suatu zat yang dihasilkan oleh suatu bagian dalam tubuh. Organ yang berperan dalam sekresi hormon dinamakan kelenjar endokrin. Disebut demikian karena hormon yang disekresikan diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah dan tanpa melewati saluran khusus. Di pihak lain, terdapat pula kelenjar eksokrin yang mengedarkan hasil sekresinya melalui saluran khusus. Sistem hormon berfungsi mengendalikan kegiatan tubuh berdasarkan rangsangan dari dalam tubuh.
Ada beberapa kelenjar hormon, diantaranya :
  1. Kelenjar Hipofisis (Pituitari)
    Kelenjar hipofisis terletak pada dasar otak dan di bawah kendali hipotalamus. Di dalam tubuh, ukurannya lebih kurang sebesar kacang ercis. Kelenjar ini seringkali disebut pula sebagai master of gland, sebab hormone yang dihasilkan dapat memengaruhi fungsi endokrin yang lain.
    Berdasarkan strukturnya, kelenjar hipofisis terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian depan (lobus anterior), bagian tengah (intermediet), dan bagian belakang (posterior). Bagian tengahnya hanya dimiliki oleh bayi, sementara pada orang dewasa telah hilang atau tinggal sisanya saja.  Oleh karena itu, pada orang dewasa, kelenjar hipofisis hanya tersusun dua bagian saja yakni bagian depan dan bagian belakang. Berikut dua bagian kelenjar hipofisis :

    • Kelenjar Hipofisis Anterior
      Kelenjar hipofisis anterior berkembang dari lipatan langit-langit mulut yang tumbuh ke arah otak. Lipatan tersebut akhirnya kehilangan persambungan dengan saluran pencernaan. Bagian depan kelenjar hiposifis ini menghasilkan banyak hormon. Selain itu, berpengaruh juga terhadap berbagai macam organ.
      Di dalam tubuh, berbagai hormon yang disekresikan kelenjar hipofisis anterior ini hanya digunakan dengan jumlah tertentu saja. Apabila terlalu berlebihan atau justru kekurangan dapat memberikan dampak yang tidak baik bagi tubuh. Misalnya saja, kelebihan hormone somatotrof (hormon pertumbuhan) dapat menyebabkan pertumbuhan raksasa (gigantisme). Selanjutnya, bila kelebihan tersebut terjadi pada waktu dewasa dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak seimbang (akromegali), seperti tulang muka, jari-jari tangan, dan kaki yang membesar. Sebaliknya, bila sekresi hormon pertumbuhan kurang, akibatnya adalah pertumbuhan terhambat atau kekerdilan (kretinisme).
    • Kelenjar Hipofisis Posterior
      Kelenjar hipofisis posterior merupakan hasil dari perluasan otak. Tepatnya berasal dari perkembangan tonjolan hipotalamus ke arah bawah, ke arah lipatan mulut yang membentuk bagian anterior hipofisis. Hormon yang dihasilkan kelenjar ini ada tiga, yakni vasopressin (antidiuretic hormone = ADH), pretesin, dan oksitosin. Vasopresin dan pretesin berfungsi mengurangi jumlah air yang hilang dari ginjal saat keluar sebagai urine. Selain itu, kedua hormon tersebut berfungsi menaikkan tekanan darah dengan mengecilkan arteriol. Sementara, oksitosin berperan dalam membantu proses kelahiran dengan kontraksi uterus. Oksitosin juga membantu sekresi susu dari payudara ibu.

    Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar Hipofisis adalah :

    1. Hormon Tirotof, berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar gondok (Tiroid), disebut juga Thyroid Stimulating Hormone (TSH).
    2. Adrenokortikotrof, berfungsi mengendalikan kegiatan kelenjar anak ginjal (adrenal), disebut juga Adreno Cortico Trophic Hormona (ACTH).
    3. Gonadotrof, berfungsi mengendalikan kelenjar kelamin (gonad), teriidri dari Follice Stimulating Hormone (FSH) dan Luiteinizing Hormone (LH).
    4. Somatotrof, berfungsi mengatur proses pertumbuhan, disebut juga Growth Hormone (GH). Kelebihan GH dapat menyebabkan pertumbuhan raksasa (gigantisme), dan sebaliknya kekurangan GH dapat menyebabkan Kretinisme.
    5. Vasopresin, berfungsi mengatur proses pengeluaran air seni, disebut juga Aniduretic Hormone (ADH).
    6. Oksitosin, berfungsi memudahkan kontraksi rahim saat wanita melahirkan.
  2. Kelenjar Tiroid
    Kelenjar tiroid merupakan kelenjar yang terletak pada leher, tepatnya pada laring. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yakni sebelah kanan dan kiri laring. Beratnya sekitar 25 gram dan kaya akan darah. Hormon terpenting yang disekresikan kelenjar tiroid adalah tiroksin. Hormon tiroksin terbentuk dari asam amino yang mengandung yodium. Bagi tubuh, hormon ini berpengaruh dalam proses metabolisme sel. Selain itu, hormon tersebut juga memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan diferensiasi jaringan tubuh.
    Beberapa penyakit manusia ada yang disebabkan oleh kelenjar tiroid. Kondisi kelebihan hormon tiroid (hipertiroid) dapat menimbulkan gejala hipermetabolisme (morbus basedowi), dengan tanda-tanda meningkatnya detak jantung sehingga muncul gugup, napas cepat dan tidak teratur, mulut menganga, dan mata melebar. Sementara itu, apabila seseorang sebelum dewasa kekurangan hormon tiroid (hipotiroid), tubuhnya dapat mengalami kretinisme (kerdil). Kretenisme ditandai dengan fisik dan mental penderita yang tumbuh tidak normal.
    Pada orang dewasa, kondisi hipotiroid dapat menyebabkan miksedema. Gejala penyakit ini, adalah laju metabolisme rendah, berat badan bertambah, bentuk badan menjadi besar, kulit kasar, dan rambutmudah rontok. Selain penyakit-penyakit tersebut, seseorang juga dapat mengalami pembengkakan kelenjar tiroid karena kekurangan makanan yang mengandung yodium. Penyakit pembengkakan demikian dinamakan gondok.
  3. Kelenjar Paratiroid (Anak Gondok)
    Kelenjar paratiroid terdiri atas empat struktur kecil yang terdapat pada permukaan kelenjar tiroid. Hormon yang disekresikan kelenjar ini disebut parathormon (PTH). Hormon parathormon berperan dalam pengaturan pemakaian ion kalsium (Ca2+) dan fosfat (PO43+) pada jaringan.
    Manusia jarang mengalami hipoparathormon (kondisi kekurangan hormon parathormon). Kalaupun mengalaminya, seseorang dapat kejang otot atau tetani. Sedangkan hiperparathormon (kondisi kelebihan hormon parathormon) dapat menimbulkan berbagai gejala seperti tulang menjadi rapuh, lemah, dan berbentuk abnormal. Selain itu, kadar ion Ca2+ yang berlebihan dalam darah dapat masuk ke air seni dan mengendap bersama ion fosfat. Endapan ini dapat membentuk batu ginjal sehingga menyumbat saluran air seni.
  4. Kelenjar Timus
    Kelenjar timus merupakan kelenjar hasil penimbunan hormon somatotrof atau hormon pertumbuhan. Pada orang dewasa, kelenjar ini tidak digunakan kembali.
  5. Kelenjar Anak Ginjal
    Kelenjar adrenal (glandula adrenal) pada manusia berbentuk sepasang struktur kecil yang terletak di ujung anterior ginjal dan kaya akan darah. Masing-masing struktur kelenjar ini memiliki dua bagian, yakni bagian luar (korteks) dan bagian dalam (medula).
    Bagian korteks kelenjar adrenal menghasilkan hormon adrenalin (epinefrin) yang berpengaruh dalam penyempitan pembuluh darah sehingga tekanan darah dan denyut jantung meningkat. Hormon ini juga berperan mengubah glikogen (gula otot) menjadi glukosa (gula darah). Selain itu, hormon adrenalin bersama hormon insulin memengaruhi proses pengaturan kadar gula dalam darah.
    Sementara itu, bagian korteks (bagian luar) adrenal mengeluarkan hormon kortin yang tersusun atas kortison dan deoksikortison. Hormon kortin dapat memudahkan perubahan protein menjadi karbohidrat, kemudian juga mengatur metabolisme garam dan air.
    Penyakit manusia yang disebabkan oleh kurangnya sekresi hormon ini adalah penyakit Addison. Gejala yang timbul pada penderita penyakit ini antara lain tekanan darah rendah, kelemahan otot, gangguan pencernaan, peningkatan retensi kalium dalam cairan tubuh dan sel, kulit kecoklatan, dan nafsu makan hilang. Penderitanya dapat diobati dengan pemberian hormon kortin melalui mulut atau intramuskular.
  6. Kelenjar pankreas
    Kelenjar pankreas dinamakan juga kelenjar Langerhans atau pulau Langerhans. Pulau Langerhans merupakan sekelompok kecil yang tersebar di seluruh pankreas. Sel-sel pulau Langerhans tak terkait dengan saluran pembawa getah pankreas yang menuju duodenum. Namun, sel-sel kelenjar ini sangat kaya akan pembuluh darah.
    Sekresi yang dihasilkan dari kelenjar Langerhans yakni hormone insulin, sebuah hormon berbentuk protein yang ditemukan oleh Dr. Frederick Banting pada tahun 1922. Hormon insulin berperan saat proses pengubahan gula darah (glukosa) menjadi gula otot (glikogen) di dalam hati. Sehingga, oleh hormon tersebut, kadar gula darah menjadi turun. Kekurangan hormon insulin pada seseorang dapat menyebabkan penyakit diabetes melitus atau penyakit kencing manis. Gejala penyakit kencing manis ditandai dengan tingginya glukosa dalam darah yang tinggi. Glukosa yang ada dalam tubuh penderita tidak diubah menjadi glikogen dan lemak, justru sebaliknya glikogen dan lemak yang diubah menjadi glukosa.
    Selain hormon insulin, kelenjar Langerhans juga memproduksi hormon guklagon. Hormon guklagon hormon yang berperan dalam mengubah glikogen menjadi glukosa.
  7. Kelenjar Kelamin
    Kelenjar kelamin disebut pula dengan gonad. Meskipun fungsi utamanya adalah memproduksi sel-sel kelamin, namun kelenjar kelamin juga memproduksi hormon. Kelenjar kelamin laki-laki terdapat pada testis, sementara kelenjar kelamin perempuan berada pada ovarium.
    Di dalam testis terdapat sel Leydig yang menghasilkan hormone testosteron atau androgen. Hormon testosteron sangat berpengaruh terhadap proses spermatogenesis (proses pembentukan sperma) dan pertumbuhan sekunder pada laki-laki. Pertumbuhan sekunder pada anak laki-laki ditandai dengan suara menjadi besar, bahu dan dada bertambah bidang, dan tumbuh rambut pada bagian tubuh tertentu misalnya kumis, janggut, cambang, ketiak, dan sekitar kemaluan.
    Sementara itu, hormon estrogen dan progesteron disekresikan oleh ovarium. Estrogen dihasilkan oleh folikel de Graff dan dirangsang oleh hormon FSH. Hormon estrogen berfungsi saat pembentukan kelamin sekunder wanita, seperti bahu mulai berisi, tumbuhnya payudara, pinggul menjadi lebar, dan rambut mulai tumbuh di ketiak dan kemaluan. Di samping itu, hormon enstrogen juga membantu dalam pembentukan lapisan endometrium.
    Bagi wanita, hormon progesteron berfungsi menjaga penebalan endometrium, menghambat produksi hormon FSH, dan memperlancar produksi laktogen (susu). Hormon ini dihasilkan oleh korpus luteum dan dirangsang oleh LH.

Alat Indera

Alat indera adalah suatu organ yang peka terhadap rangsang tertentu. Manusia memiliki lime indera atau disebut pancaindra. Berikut adalah lima indera yang dimiliki oleh manusia :

Mata


Mata terletak di dalam rongga mata dan dihubungkan oleh otot penambat mata pada tulang tengkorak. Mata dilindungi oleh alis mata, kelopak mata (atas dan bawah), dan kelenjar air mata. Kelenjar air mata terletak di bagian dalam kelopak mata bagian atas. Kelenjar air mata berfungsi menghasilkan air mata yang berguna untuk membasahi bola mata dan membersihkan benda asing, misalnya debu.
Dinding bola mata terdiri atas tiga lapis, yaitu sklera (lapisan pertama), koroidea (lapisan kedua), dan retina (lapisan ketiga). Sklera merupakan lapisan terluar, keras, berwarna putih, disebut bagian putih. Bagian depan lapisan ini menonjol dan transparan, disebut kornea. Koroidea disebut juga selaput darah karena pada lapisan ini banyak terdapat pembuluh darah, kecuali bagian depan. Bagian depan lapisan ini sedikit terbuka, disebut selaput pelagi (pupil). Pupil terletak dibagian belakang kornea bagian tengah. Pupil dapat mengalami perubahan ukuran secara refleks bergantung pada intensitas cahaya yang masuk. Jika cahaya yang masuk terang, pupil akan mengecil. Sedangkan jika cahaya redup, pupil akan membesar. Sel-sel lapisan koroida di sekitar pupil mengandung pigmen yang menyebabkan mata berwarna hitam, cokelat biru, atau hijau. Daerah ini disebut iris.
Dibelakang pupil terdapat lensa mata berbentuk bikonveks yang didukung oleh otot (muskulus siliaris) yang melekat pada dinding koroidea. Kontraksi muskulus siliaris menyebabkan perubahan kecembungan lensa. Apabila melihat benda jauh, lensa mata akan mencembung. Sebaliknya, apabila melihat benda dekat, lensa mata akan memipih. Kemampuan ini disebut daya akomodasi mata. Di antara lensa mata dan kornea terdapat cairan encer yang disebut aqueous humor. Bola mata berisi cairan kenal dan transparan yang disebut vitreous humor.


Retina juga disebut selaput jala. Lapisan ini sangat lunak dan kompleks. Retina mengandung reseptor yang peka terhadap rangsang cahaya. (fotoreseptor), yaitu sel batang (basilus) dan sel kerucut (konus). Sel batang berfungsi pada keadaan cahaya suram dan tidak dapat membedakan warna, sedangkan sel kerucut berfungsi pada keadaan terang dan dapat membedakan warna. Bagian retina yang tidak memiliki sel batang maupun sel kerucut disebut bintik buta. Agar dapat melihat, cahaya harus jatuh pada bagian peka pada retina, yaitu bintik kuning.
Untuk dapat melihat suatu objek, mata harus memiliki beberapa syarat, diantaranya ada cahaya yang dipantulkan benda ke mata; mata harus sehat (tidak mengalami gangguan); serabut saraf pembawa rangsangan harus bekerja dengan baik; dan otak besar sebagai pusat pengolahan rangsang harus juga harus bekerja dengan baik.
Secara singkat, urut jalannya rangsang dapat dilihat pada skema berikut :

Setelah retina menangkap rangsang cahaya, akan diteruskan oleh saraf mata ke saraf pusat, lalu diterjemahkan sehingga kita dapat melihat.

Penyakit dan Kelainan pada Mata
  1. Mata miop (miopi)
    Miopi atau mata dekat adalah cacat mata yang disebabkan lensa mata terlalu cembung sehingga bayangan jatuh di depan bintik kuning (retina). Miopi disebut pula rabun jauh, karena tidak dapat melihat jauh. Penderita miopi hanya mampu melihat jelas pada jarak yang dekat. Untuk membantu penderita miopi, sebaiknya memakai kaca mata berlensa cekung (negatif).
  2. Mata hipermetop (hipermetropi)
    Hipermetropi atau mata jauh adalah cacat mata yang disebabkan lensa mata terlalu pipih sehingga bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Hipermetropi disebut pula rabun dekat, karena tidak dapat melihat dekat. Penderita hipermetropi hanya mampu melihat jelas pada jarak yang jauh. Untuk membantu penderita hipermetropi, dipakai kacamata lensa cembung (lensa positif).
  3. Mata presbiop (presbiopi)
    Presbiopi umumnya terjadi pada orang berusia lanjut. Keadaan ini disebabkan lensa mata terlalu pipih dan daya akomodasi mata sudah lemah sehingga tidak dapat memfokuskan bayangan benda yang berada dekat dengan mata. Gangguan mata seperti itu dapat dibantu dengan memakai kacamata berlensa rangkap.Di bagian atas kacamata dipasang lensa cekung untuk melihat benda yang jauh, sedangkan di bagian bawahnya dipasang lensa cembung untuk melihat benda dekat.
  4. Mata astigmatisma
    Mata astigmatisma adalah cacat mata yang disebabkan kecembungan kornea tidak rata, sehingga sinar sejajar yang datang tidak dapat difokuskan ke satu titik. Untuk membantu penderita astigmatisma dipakai kacamata silindris.
  5. Buta Warna
    Buta warna merupakan gangguan penglihatan mata yang bersifat menurun. Penderita buta warna tidak mampu membedakan warna-warna tertentu, misalnya warna merah, hijau, atau biru. Buta warna tidak dapat diperbaiki atau disembuhkan.
  6. Katarak
    Katarak adalah cacat mata yang disebabkan pengapuran pada lensa mata sehingga penglihatan menjadi kabur dan daya akomodasi berkurang. Umumnya katarak terjadi pada orang yang telah lanjut usia.
  7. Hemeralopi (rabun senja)
    Hemeralopi adalah gangguan mata yang disebabkan kekurangan vitamin A. Penderita rabun senja tidak dapat melihat dengan jelas pada waktu senja hari. Keadaan seperti itu apabila dibiarkan berlanjut terus mengakibatkan kornea mata bisa rusak dan dapat menyebabkan kebutaan. Oleh karena itu, pemberian vitamin A yang cukup sangat perlu dilakukan.
  8. Keratomalasi
    Keratomalasi ditandai dengan kornea mata yang keruh. Penyebabnya adalah kekurangan vitamin A yang sangat parah. jadi, penyakit ini merupakan tingkat lanjut rabun senja. Kekurangan vitamin A menimbulkan penebalan selaput lendir mata. Akibatnya, permukaan mata yang basah menjadi kering dan kasar (xeroftalmia/xerosis). Jika tidak segera diatasi, akan menimbulkan kebutaan.
  9. Juling
    Kelainan mata ini disebabkan adanya ketidakserasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan bola mata kiri. Kelaianan ini dapat diatasi dengan melakukan operasi pada otot mata.

Telinga







Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu bagian luar, bagian tengah, dan bagian dalam. Bagian luar terdiri atas daun telinga, liang telinga, dan membran timpani (gendang telinga). Gendang telinga memisahkan telinga bagian luar dan bagian tengah. Bagian tengah terdiri atas tulang martil (malleus), tulan landasan (incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Ketiga tulang ini membentuk rangkaian melintang dan bersatu dengan membran timpani. Telinga bagian tengah dengan rngga mulut dihubungkan oleh saluran Eustachio. Bagian dalam erdiri atas rumah siput (koklea) dan tiga saluran gelung/saluran setengah lingkaran (kanalis semisirkularis). Rumah siput berperan dalam penerimaan suara, sedangkan tiga saluran gelung berfungsi sebagai alat keseimbangan.

Manusia hanya dapat mendengar bunyi dengan frekuensi 20-20.000 Hz.Berikut adalah proses pendengaran :




Telinga juga berfungsi sebagai alat keseimbangan dengan adanya tiga saluran gelung. Di dalam saluran gelung terdapat cairan endolimfa. Setiap pangkal saluran gelung menggembung, dinamakan ampula. Di dalam ampula terkumpul ujung saraf yang berhubungan dengan otak.Gerakan pada kepala menyebabkan cairan endolimfa di dalam saluran gelung bergetar dan merangsang ujung-ujung saraf untuk menyampaikan rangsangan tersebut ke otak. Otak akan mengolah rangsang tersebut dan memerintahkan otot–otot  untuk menjaga keseimbangan badan.

Penyakit pada telinga
  1. Radang telinga (otitas media)
    Penyakit ini disebabkan karena virus atau bakteri dan sering menyerang pada anak-anak. Gejalanya adalah sakit pada telinga, demam, dan pendengaran berkurang. Telinga akan mengeluarkan nanah dan kelainan ini dapat memecahkan gendang telinga.
  2. Labirintitis
    Labirintitis merupakan gangguan pada labirin dalam telinga. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi, gegar otak, dan alergi. Gejalanya antara lain telinga berdengung, mual, muntah, vertigo, dan berkurang pendengaran.
  3. Tuli
    Tuli atau tuna rungu ialah kehilangan kemampuan untuk dapat mendengar. Tuli dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu tuli konduktif dan tuli saraf. Tuli konduktif terjadi disebabkan oleh menumpuknya kotoran telinga di saluran pendengaran, sehingga mengganggu transmisi suara ke koklea. Tuli saraf terjadi bila terdapat kerusakan syaraf pendengaran atau kerusakan pada koklea khususnya pada organ korti.
  4. Radang Telinga
    Radang telinga dapat terjadi di bagian luar maupun tengah. Radang telinga bagian luar terjadi karena bakteri, jamur, atau virus yang masuk melalui berbagai cara, misalnya masuk bersama air ketika berenang. Radang telinga tengah (otitis media) dapat terjadi karena bakteri atau virus, misalnya virus influenza, yang masuk dari rongga mulut melalui saluran eustchio.
  5. Otosklerosis
    Penyakit ini merupakan tuli konduksi yang menahun karena tulang sanggurdi kaku dan tidak dapat bergerak secara leluasa. Penyakit ini harus ditangani oleh dokter THT.

Kulit


Kulit memiliki lima macam reseptor yang merupakan ujung saraf indera peraba. Kelima reseptor khusus merespon rangsang berupa tekanan, sentuhan, sakit, panas dan dingin. Tiap reseptor hanya cocok untuk satu tipe rangsang.
Rseptor tekanan berbentuk bawang dan merupakan reseptor yang paling besar. Reseptor tekanan berada di bagian dermis yang jauh dari permukaan kulit.
Ujung reseptor sentuhan terletak di bagian epidermis, lebih dekat dengan permukaan lingkungan jika dibandingkan dengan ujung reseptor yang lain. Hal ini membuat kita menjadi lebih peka meskipun rangsang yang kita terima sangat lembut.
Reseptor rasa sakit (nyeri) juga terdapat di organ tubuh bagian dalam. Hal itu bermanfaat untuk memberitahu kita adanya sesuatu yang tidak beres pada tubuh kita. Misalnya, ketika merasa nyeri di bagian bawah perut, kita harus waspada bahwa kita tidak sehat.
Dua reseptor yang lain, yaitu reseptor rasa dingin dan reseptor rasa panas disebut sebagai termoreseptor. Keduanya peka terhadap perubahan suhu lingkungan. Selain peka terhadap suhu lingkungan di luar tubuh, termoreseptor juga peka terhadap lingkungan di dalam tubuh. Oleh karena itu, temperatur dalam tubuh selalu terjaga.
Penyebaran ujung saraf peraba tidak merata di seluruh permukaan kulit. Beberapa bagian tubuh tertentu lebih banyak mengandung ujung saraf, misalnya ujung jari, telapak tangan, dan telapak kaki. Akibatnya, bagian tubuh itu lebih peka terhadap rangsang sentuhan.

Penyakit pada Kulit
  1. Eksim (Ekzema).
    Penyakit ini disebabkan karena alergi pada makanan atau kandungan alkohol pada makanan dan penyedap rasa. Gejala pada kulit adalah warna kemerahan, bersisik, pecah-pecah, gatal (terutama pada malam hari).
  2. Kudis (Skabies) diakibatkan penggunaan handuk dan pakaian yang sama dengan orang lain dan menggunakan barang yang sama dengan si penderita.
  3. Kurap disebabkan oleh jamur. Gejalanya kulit menebal dan muncul bentuk-bentuk seperti lingkaran, bersisik, terasa lembab dan berair serta rasanya gatal. Kemudian akan muncul bercak putih.
  4. Bisul (furunkel).
  5. Ketombe (seboroid).
  6. Cacar air (frambusia).

Hidung

Hidung mempunyai komoreseptor, yaitu reseptor yang peka terhadap rangsang zat kimia berbentuk gas. Pada rongga hidung bagian atas terdapat ujung-ujung saraf peraba dari saraf kranial, yaitu saraf pembau (olfaktori). Di rongga hidung juga terdapat sel-sel pembau yang dilengkapi dengan rambut-rambut halus dan dilapisi selaput lendir sebagai pelembap. Pada saat kita menarik napas dan udara masuk ke dalam rongga hidung, zat kimia yang terdapat di dalam udara akan larut dalam selaput lendir. Hal itu merangsang rambut-rambut halus sel pembau. Rangsangan tersebut akan diteruskan oleh saraf pembau ke otak besar. Otak besar akan mengolah rangsang itu dan mempersepsikan bau dari gas yang terhirup.
Indera pencium bau berkaitan erat dengan indera pengecap. Gangguan pada indera pembau akan mengganggu kepekaan indera pengecap.



Penyakit pada Hidung

  1. Anosmia
    Anosmia adalah ganggguan pada hidung berupa kehilangan kemampuan untuk membau. Penyakit ini dapat terjadi karena beberapa hal, misalnya cidera atau infeksi di dasar kepala, keracunan timbel, kebanyakan merokok, atau tumor otak bagian depan. Untuk mengatasi gangguan ini, harus diketahui dulu penyebabnya.
  2. Tumor Hidung
    JNA (Juvenile nasopharyngeal angiofibroma) berasal dari sex steroid-stimulated hamartomatous tissue yang terletak di turbinate cartilage. Pengaruh hormonal yang dikemukakan ini dapat menjelaskan mengapa beberapa JNA jarang terjadi (ber-involute) setelah masa remaja (puberty).
  3. Salesma dan Influenza
    Salesma dan influenza disebabkan oleh virus. Gejala yang mengiringi diantaranya mencret ringan, terutama pada anak kecil.
  4. Sinus
    Bisa disebabkan oleh virus, bakteri, maupun alergi. Gejala yang timbul adalah sakit pada muka di sekitar mata. Pada daerah ini jika Anda mengetuk tulang atau menundukkan kepala, muka akan terasa sakit. Hidung sering kali tersumbat oleh adanya nanan atau ingus yang kental. Kadang-kadang diikuti oleh panas.

Lidah


Lidah pada manusia kasar, disebablan oleh tonjolan-tonjolan lidah yang disebut papila. Lidah peka terhadap rangsang rasa karena mengandung banyak kuncup pengecap yang terleak di celah-celah papila. Kuncup pengecap sangat peka terhadap rangsang rasa karena terdiri atas kumpulan reseptor. Ada empat macam kuncup pengecap yang menempati bagian lidah tertentu. Bagian ujung lidah peka terhadap rasa manis dan rasa asin; tepi lidah bagian belakang peka terhadap rasa masam; dan bagian belakang lidah peka terhadap rasa pahit.


Penyakit pada Lidah
  1. Ageusia, Hiperguesia, Disguesia
    Disebabkan oleh mulut yang sangat kering, perokok berat, terapi penyinaran pada kepala dan leher, efek samping dari obat (misalnya vinkristin-obat antikanker atau amitriptilin-obat antidepresi), luka bakar pada lidah (bisa menyebabkan kerusakan sementara pada jonjot-jonjot pengecap), Bell’s palsy (bisa menyebabkan berkurangnya pengecapan pada salah satu sisi lidah), depresi. Gejala pada Aguesia, tidak mampu mengecap rasa sama sekali. Hipogeusia, kehilangan sensitivitas pengecap. Disguesia, tidak dapat mengecap rasa tertentu.
  2. Candidiasis Oral
    Penyebabnya adalah Infeksi jamur ragi dari genus Candida pada membran berlendir mulut. Hal ini sering disebabkan oleh Candida albicans, atau kadang oleh Candida glabrata dan Candida tropicalis. sariwan pada mulut bayi disebut candidiasis, sementara jika terjadi di mulut atau tenggorokan orang dewasa diistilahkan candidosis atau moniliasis. Dengan gejala timbulnya kumpulan lapisan kental berwarna putih atau krem pada membran mucosal (dinding mulut dalam). Pada mucosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul radang (berwarna merah). Orang dewasa mungkin mengalami rasa tidak nyaman atau rasa terbakar.
  3. Kanker Lidah
    Penyebabnya adalah merokok, terutama yg lebih dari 2 pack perhari, resiko tersebut akan meningkat dengan penggunaan alcohol 6-12 oz sehari. Squamous cell carcinoma pada lidah dapat juga disebabkan syphilis atau trauma khronis misalnya tambalan atau gigi yang tajam yg menimbulkan trauma pada lidah. Gejalanya terdapat luka (ulkus) seperti sariawan yang tidak sembuh dengan pengobatan yang adekuat, mudah berdarah, nyeri lokal, nyeri yang menjalar ke telinga, nyeri menelan, sulit menelan, pergerakan lidah menjadi semakin terbatas.



Daftar Pustaka

  • http://ratih-saridewi.blogspot.com/2012/12/macam-macam-penyakit-dan-kelainan-pada.html 
  • http://zaifbio.wordpress.com/2010/01/13/sistem-hormon-manusia/ 
  • http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/08/kelainan-dan-penyakit-pada-indra.html 
  • http://safaracathasa.wordpress.com/2011/01/15/penyakit-alat-indera/ 
  • http://biologi-itey.blogspot.com/2010/04/kelainan-pada-telinga.html 
  • Buku Eksplorasi Ilmu Alam Kelas IX “PLATINUM”
  • Buku “Mari Belajar Ipa (BSE)”, karangan Elok Sudibyo, Wahono Widodo, Wasis, dan Dwi Suhartanti.
     

Komentar

Postingan populer dari blog ini