You
Read this and hear this song..
***
Aku tak pernah bepikir sebelumnya untuk hal seperti ini.
Aku bukan seorang wanita yang akan terus memikirkan masalah kecil yang tak penting.
Jadi aku mengabaikan semuanya disaat semua teman membicarakan pria idamannya.
Aku menemukan seorang pria, pria tinggi dengan wajah yang rupawan.
Aku suka senyumnya, manis, seperti lolipop dengan warna-warni.
Aku suka lesung pipitnya, aku juga suka kantung matanya.
Aku suka (hampir) semua yang ada pada dirinya.
Suatu hari aku tersenyum saat melihat dirnya tersenyum penuh kebanggaan, dan di hari lain aku merasakan aku bisa hidup tanpa pria ini (sangat yakin) dan memang harusnya seperti itu.
Karena dia dan aku berbeda. Dia utara dan aku Selatan, sama seperti warna hitam dan putih yang tak akan menyatu. Jadi kuputuskan untuk memendam semuanya, lalu mengunci pintu hati ini rapat-rapat, dan menelan kunci itu sampai ke dasar yang paling dalam.
Aku suka suara merdunya, ketika dia bernyanyi dengan iringan petikan gitar.
Aku pernah bermimpi untuk menggenggam tangannya, atau memeluknya suatu hari.
Tapi aku juga yakin semua itu tak akan pernah terjadi.
Jadi aku hanya tersenyum kecut seperti seorang pecundang.
Jadi aku hanya tersenyum kecut seperti seorang pecundang.
Aku pernah bermimpi di siang hari, berjalan bersamanya dibawah sinar mentari yang mulai meredup, dan sekali lagi aku hanya tersenyum, karena semua itu tak akan mungkin terwujud. Itu hanya sebuah harapan yang ada diingatan, dan khayalan yang dimimpikan oleh seorang gadis kecil.
Dia belum tahu apa-apa soal cinta, atau yang lain. Jadi ia akan menunggu sampai waktu itu datang.
Waktu saat semuanya telah terlambat~

Komentar
Posting Komentar