Dia


                Aku mulai mengenalnya dua tahun yang lalu, ketika aku duduk di sebelahnya. Saat itu dia hanya tertawa melihat tingkah ku yang serba salah. Tentu saja, ada yang membuat aku berbeda di sana. Ternyata dia masih ingat hari itu, ketika kami tengah mengobrol bersama kembali. Sepertinya, sudah lama terjadi hingga aku tak ingat persisnya kapan.
                Dua tahun yang lalu ia belum mempercayaiku untuk menyimpan rahasianya atau berbagi sebuah masalah kepadaku. Tapi aku tak mempermasalahkan semuanya, karena aku tak pernah berpikir untuk mengenalnya lebih dekat.
Satu tahun yang lalu kami kembali bersama, bahkan kembali bertemu disatu ruangan yang sama. Akupun mulai berpikir satu tahun setelah ini kami akan bersama kembali. Tapi sayangnya tidak.
Satu tahun yang lalu dan dua tahun yang lalu berbeda. Aku terlalu lambat untuk menyadarinya atau terlalu menikmati kebahagiaan ditiap detiknya. Ketika dia memiliki orang lain untuk diajaknya bercanda atau berjalan bersama dengannya.
Pagi ini ketika matahari mucul dari balik awan dengan malu-malu, aku dan dia tengah duduk di bawah pohon yang cukup rimbun. Angin bertiup pelan dan membuat beberapa daun melayang jatuh dengan gerak yang lambat. Aku kembali merasakannya, ketika aku merasa canggung saat bersama orang yang tak aku kenal. Tapi aku telah mengenal gadis ini cukup lama dan mungkin telah cukup dekat untuk memahami isi hatinya.
“Venia, kau belajar apa hari ini?”
“Baru matematika dan IPA.”
Setelah itu kami kembali terdiam, tak ada satu katapun yang terlontar. Hanya terdengar suara beberapa kerumunan orang yang berbicara di sekeliling kami. Sedikit terasa aneh memang. Tapi menururtku wajar, karena kami mulai melupakan satu sama lain dan disibukkan oleh rutinitas tanpa akhir.
Dihari yang lainnya kejadian ini terus terulang, hingga beberapa hari disaat kami tak bisa bertemu disaat bel berbunyi.
“Aku bawa bekal hari ini,” kata Venia pada ku.
Aku hanya tersenyum padanya, sedikit dipaksakan. Karena saat itu aku sedang membutuhkannya. Aku berkata pada hati kecilku, mugkin besok atau lain waktu. Aku masih tersenyum ke arah Venia.
Dihari berikutnya kami jarang bertemu, bahkan tak pernah. Tak ada kabar lewat sms yang kudapat. Mungkin dia sibuk, pikirku. Sama seperti diriku yang tak pernah bertanya bagaimana kabarnya, atau bahagiakah dia hari ini.
Mungkin untuk orang lain, sekedar menyapa itu mudah. Tapi menurutku tidak. Aku harus memiliki suasana hati yang baik untuk mengobrol dengan orang lain. Setidaknya, keinginan untuk berbicara dengan seseorang.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan dan empat bulan. Hari ini bulan yang berbeda, dengan hari yang berbeda. Lebih cerah, kataku dalam hati. Ketika beberapa teman berkumpul di rumah untuk merayakan hari kelahiran ku. Menyenangkan, dan sangat menyenangkan ketika melihat gadis itu tersenyum kembali.
Beberapa pose antara dia dan seorang temanku yang bertubuh agak besar diambil. Dengan beberapa gaya yang bisa membuat orang lain tertawa. Aku berharap dia senang hari ini, harapku sambil tertawa terpingkal-pingkal bersama yang lainnya.
Pukul tujuh malam hujan mulai turun, dan masih dalam bentuk butiran kecil. Tak ada yang dapat kulakukan sekarang, karena ini akhir pekan. Jadi aku membuka jejaring sosial yang aku miliki, facebook. Sebuah pesan baru saja masuk, sebagai jawaban atas pertanyaanku.
“Iya?,” hanya ini jawaban darinya.
“Ya, hanya itu. Kau bisa melihatnya sendiri di twitter,” jawabku mulai kesal.
“Oh.. Boleh ku minta satu foto saat ada Mika?”
Aku mengerang kesal karenanya, mungkin permasalahan akan segera dimuali, ejek ku dalam hati.
“Ya.” Dan hanya itu jawabku. Setelah itu aku mengirim sebuah foto padanya.
“Makasih.”
“Sama-sama,” balas ku cepat.
Setelah itu aku menutup kotak pesan itu secepat mungkin, takut kalau aku kembali membaca pesan yang hanya membuatku marah. Kau tidak peduli padaku? Hahaha, harusnya aku mulai sadar dari satu tahun yang lalu. Jangan percaya pada orang lain, kataku dalam hati untuk diri ku sendiri.
Dan, TING! Sebuah pesan kembali masuk.
“Noviiiiiiiiiiii”
“Apa?”
Masih pesan dari orang yang sama. Membosankan, kataku sambil menopang dagu dengan kedua tangan ku.
“Boleh nanyaaaa??”
Dan ini adalah kebiasaannya tiap kali mengirim pesan. Selalu ada huruf yang dilebih-lebihkan. Tapi aku mulai berpikir, kalau ini adalah hidupnya, jadi tak usah ikut campur.
“Boleh,” balasku malas.
“Menurut mu, dia orang yang bagaimana?”
Aku mengambil napas panjang, lalu membuangnya dengan kesal. Apa dia tak memperdulikan aku? Aku sedang kesal, dan dia? Dia malah membicarakan seorang pria. Ya, dia tengah menyukai seorang pria yang dia bilang agak aneh. Mereka bertemu disalah satu tempat kursus suatu sore.
“Entah. Aku belum melihat wajahnya”
Lalu jeda beberapa saat, dan dia tak mengirim satupun pesan lagi. Kupikir sudah berakhir, tapi pesan kembali masuk.
“Nov, masih aktif?”
“Masih”
Ternyata benar, ini adalah pesan terakhir malam itu. Mungkin dia merasakannya, merasa kalau aku mulai berbeda dari yang dulu. Mungkin aku selalu mendengar semua ceritanya di satu tahun yang lalu atau tertawa saat membicarakan hal-hal aneh yang tiba-tiba melintas di kepala. Dulu kami akan saling menceritakan tentang pria yang mungkin baru ditemui atau yang tengah kami suka. Tapi semua mulai berbeda sejak beberapa bulan yang lalu.
Mungkin beberapa hari yang lalu lebih baik atau lebih menyenangkan. Tapi tidak dengan beberapa hari setelahnya. Aku merasa tegang yang luar biasa. Ketika ibu ku mengambil hasil nilai UTS. Gadis itu datang, hanya untuk bertanya berapa nilai ku. Satu kali, dua kali, dan aku masih bersabar untuk menahan emosi dan ketegangan yang terjadi.
Namun untuk ketiga kalinya, “Bukankah sudah ku katakan belum?!,” kataku dengan suara yang agak ditekan dan lebih tinggi.
Dia tak menjawab, hanya saja aku melihat matanya yang tadi bersinar cerah menjadi redup. Mungkin dia marah, pikirku sejenak. Tapi gadis itu telah melangkah pergi meninggalkan aku.
Mungkin aku harus minta maaf, kata ku sejenak dalam hati. Tapi setelah berpikir tentang kejadian beberapa hari yang lalu, aku menghapus keinginan itu. Bukankah ini salahnya juga? Aku melempar kembali kesalahan ku kepada apa yang telah diperbuatnya. Tapi manusia selalu seperti itu, tak pernah memperdulikan orang lain saat emosi menguasainya. Jadi aku tak memperdulikan gadis itu.
Namun semakin dipikir, aku semakin merasa bersalah. Harusnya aku tak membentaknya seperti itu, bukankah dia hanya ingin tahu berapa nilai ku? Tapi semuanya telah terjadi. Seharusnya aku minta maaf. Semakin dipikirkan, rasa bersalah itu semakin menekan ditiap jamnya. Tapi aku terlalu pengecut untuk mengatakan maaf. Jadi, aku membiarkan diriku terjaga malam itu. Tidur sedikit lebih malam dan membaca novel akan membuat hati merasa lebih baik sepertinya.
Satu jam. Waktu ini cukup untuk melupakan semuanya. Aku membiarkan hari-hari terus berlalu, sampai hari itu datang. Hari itu ulang tahunnya, ketika dia akan mengajak beberapa teman untuk makan bersama. Kupikir dia tak akan mengajak ku. Tapi tidak, dia mengajakku untuk ikut bersamanya. Ada rasa malu setelah mendengar ajakannya. Apa dia tak ingat hari itu? Hari dimana aku membentaknya dan aku yakin ia akan kesal setelah mendengarnya.
“Kau tak marah?,” tanyaku sedikit berbisik.
“Marah? Marah untuk apa?,” tanyanya dengan raut wajah bingung.
Apa dia lupa? Tanya ku dalam hati. Atau aku lupakan saja masalah yang pernah ku buat padanya? Tapi tidak, aku tak ingin menjadi pengecut untuk yang kedua kali.
“Saat aku membentak mu,” jawab ku sambil menunduk malu.
Dia tersenyum tipis, lalu menjawabnya dengan tenang, “Tak apa. Bukan salahmu juga saat kau membentak. Kau juga sedang tegang saat itu.”
Aku tersenyum. Lalu mulai larut dalam suasana yang menyenangkan dihari itu. Tak ada salahnya meminta maaf pada orang lain, karena hal ini tak akan menjatuhkan harga diri seseorang. Justru akan menunjukkan kalau kau bertanggung jawab atas semua yang pernah kau perbuat.
Semenjak hari itu terjadi, kami memang mulai tak sedekat dulu. Bahkan ia hanya memanggil nama ku saat berpapasan. Demikian denganku, hanya menjawabnya dengan senyuman atau dengan satu kata ‘iya’. Sekali lagi aku menyadari, kalau dia hanyalah seorang gadis yang bertemu dan menjadi teman dekat beberapa bulan yang lalu. Dia bukan seseorang yang harus aku pertahankan selamanya untuk berada di dekatku. Dia punya kehidupan sendiri untuk dinikmati dan dijalani. Akupun begitu. “Jadi, nikmatilah semuanya Novita” ucapku sendiri. Mungkin hanya untuk mendorongku agar dapat membiarkan orang lain melakukan segala hal dalam hidupnya dan sekali lagi, uruslah hidup mu sendiri jangan urusi kehidupan orang lain. Setelah berkata hal ini dalam hati dan merasa lebih baik, aku bangkit dari kursi yang kududuki. Lalu melangkah keluar.
Tapi aku tak bisa mengelak, kalau aku masih menginginkan gadis itu untuk sama seperti dulu. Jadi aku memberikan sebuah janji pada diriku “Setelah empat bulan lagi, aku akan bisa berbicara banyak dengannya menceritakan semua yang aku rasakan saat ini atau mungkin berjalan-jalan dengannya”. Lalu aku tersenyum dan menggapai tangan salah satu temanku dan berjalan keluar bersamanya. Dan menjalankan hari-hari ku dengan baik-baik saja.
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sistem Koordinasi dan Indra pada Manusia